Camat Rantau Pulung Tak Mau Terbitkan Ijin Usaha Hiburan Malam.Babinsa- Polsek Akan Habisi Jika Berani Buka. Tokoh Masyarakat Mendukung.

0
99
Camat Rantau Pulung Mulyono ( tengah) diapit dua Babinsa Koramil 0909/SGT Sertu Boirin (kiri) dan Pelda Nurhasanah ( kanan), siap membackup Camat untuk memberantas tempat maksiat dan perjudian diwilayah binaannya. FOTO :Adi Sagaria

liputankutim.com, SANGATTA – Camat Rantau Pulung Mulyono menegaskan melarang keras warganya dan atau siapaun itu yang ingin membuka usaha hiburan malam di seluruh wilayah Rantau Pulung yang tersebar di sembilan desa.
“Saya sudah berjanji dan bersumpah tidak akan menerbitkan surat ijin usah seperti hiburan malam seperti karaoke dan cafe-cafe dan perjudian di Rantau Pulung”kata Camat Mulyono, kepada Jurnalis Liputankutim.com, Rabu, 16/01/2019.
Alasan Camat Mulyono melarang dan tidak memperbolehkan adanya lampu remang-remang tempat hiburan malam dan adanya perjudian, karena Rantau Pulung kan terkenal dengan keagamaannya yang kuat.
“Jadi penyakti-penyakit masyarakat kita hilangkan dan kita tertibkan. Dan itu sudah komitmen kami bersama Muspika, Camat, Polsek dan Koramil bersama tokoh masyarakat”katanya menambahkan
Pernyataan sama juga disampaikan Babinsa Desa Tanjung Labu Sertu Boirin, bahwa komitmen bersama ini akan menjadi perhatiannya,jika ada yang berani membuka usaha hiburan malam dan perjudian akan kami habisi.
“Saya Babinsa siap membackup camat dan Polsek untuk menghabisi oknum-oknum yang mau coba-coba buka usaha hiburan dan perjudian”kata Sertu Boirin.
Sedangkan salah satu tokoh desa Kebon Agung, Maksum mengatakan sangat mendukung langkah Muspika dengan melarang adanya kegiatan hiburan malam dan perjudian didaerah Rantau Pulung ini.
Menurut Maksum kalau ada langkah-langkah seperti itu, sebetulnya bukan barang baru, sebab sejak camat pertama hingga camat sekarang ini. Dengan melalui dengan adanya kegiatan pengajian akbar yang dilakukan ditiap desa sekali dalam dua bulan dan berjalan.
“Itu dilaksanakan salah satu cara untuk menyentuh agar kiranya berkaitan kegiatan yang munkar didalam islam itu dapat di antisipasi sedini mungkin.’
Maksum mengatakan sangat sepakat dengan ini, namun muspika harus bekerjasama dengan masyarakat menggandeng tokoh agama ditiap-tiap desa hingga RT, bahwa siapapun itu tidak ada yang ingin kampungnya, desanya tidak setuju dengan yang namanya berbauh porno dan judi, karena itu akan merusak keimanan seseorang.
“Perjudian dan maksiat itu merupakan hak seseorang, tapi itu sudah tau bahwa itu melanggar norma etika dan hukum,tentu harus ada tindakan”katanya lagi.
Lalu bagaimana langkah-langkahnya, saya kita dengan melalui sosialsiasi kemudian pendekatan secara keagamaan, pendekatan budaya dan sebagainya.” Ini penting karena kenapa harus ada sosialisasi, mungkin karena pengaruh ekonominya dan mungkin saja ada budaya dari kampungnya.
Mohon maaf saya tidak menyebut suku, tetapi biasanya ini misalnya main remi, main dadu, sabung ayam, mungkin itu budaya mereka tetapi kadang-kadang merusak. Nah ini yang kadang-kadang bisa meluas dan tidak tersentuh dengan hukum.
“Tapi mudfah-mudahan dengan seringnya ada kegiatan pengajian dan tablik akbar ditiap-tiap desa, termasuk kegiatan yasinan pada tiap malam jumat, itu sangat bermanfaat”ujarnya lagi.
Terus terang kegiatan sabung ayam yang dibubarkan aparat kepolisian dan Babinsa Kodim itu, sejak dulu saya juga tidak suka. Karena dari sisi kemanusiaan itu judi mutlak haram bagi agama islam.
“Jadi kalau sudah ada sosisliasi kemudian ada terjadi itu tindakan tegas aparat penegak hukum yang harus bertindak tegas”katanya (*)