Cerita Sedih Dibalik Terbakarnya Pasar Sangkulirang: Api Didepan Saya Besar, Ledakan Tabung Gas Koyok Tembakan. Suami Baru Selesai Di kubur, Kios Saya Kebakaran

0
3159
Ibu Sunari (60) tahun berfoto dibekas kios miliknya yang terbakar, dengan latar belakang Masjid Besar Sangkulirang (FOTO: Febriani).

Liputankutim, Sangkulirang –  Peristiwa kebakaran pasar modern Kecamatan Sangkulirang yang terjadi hari jumat, 05/07/2019, begitu menyedihkan bagi puluhan pedagang.

Menurut Kapolsek Sangkulirang AKP Syamsu Alam, kebakaran yang menghanguskan 50 petak Kios Pasar Modern Sangkulirang dengan kerugian materil ditaksir mencapai miliaran rupiah. “Karena api begitu cepat merembet, banyak warga menyelamatkan diri hanya dengan baju dibadan, sehingga uang puluhan juta habis terbakar”kata Kapolsek AKP Syamsu Alam.

Jurnalis Liputankutim.com, dari Sangkulirang, Sabtu, 06/07/2019 pukul 11.00 Wita, menelusuri puing-puing bangunan yang rata dengan tanah. Juga bisa mewawancarai korban kebakaran yang menjadi saksi dan pemilik kios. Juga meliput aktivitas warga yang mulai berjualan dipinggir jalan.

Ibu Sunari 60 tahun, salah satu pemilik kios sembako dan sayuran, menyaksikan langsung detik-detik peristiwa kebakaran yang menurut dia, sangat mengejutkan dan menakutkan.  

Menurut ibu Sunari, dirinya saat itu baru saja selesai melaksanakan sholat azhar, dan sedang duduk kios tempatnya berjualan. Seperti biasa dirinya sendirian menunggu orang datang belanja.

Ia mengatakan dirinya seperti mimpi mendengar teriakan suara, api, api kebakaran, kebakaran. Mendengar suara teriakan ada api, kebakaran tiba-tiba api sudah dekat dengan kios saya.

Ia mengaku ketakutan melihat api yang tiba-tiba sudah ada didepan kiosnya. Karena kaget dia langsung loncat dari atas meja dan lari kerah masjid karena menghindari api yang mulai melalap kios dan seluruh isinya.

“Saya kaget dan takut,  karena api sudah didepanku. Tak tinggal lari, tidak ada yang bisa nolong, karena api sudah jadi sudah besar sekali. Semua tabung gas  meledak “koyok” tembakan”kata Mba Sunari dengan logat jawa.

Sunari mengaku sedih karena kios tempatnya usaha itu baru ditempatinya sejak enam bulan lalu. Kios situ dia sewa sebesar Rp20 juta untuk dua tahun, dan baru ditinggali enam bulan.

“Sekarang kios sewaan saya sudah rata dengan tanah, tidak satupun barangnya yang tersisa. Sumua barang dagangan saya menjadi debu pak”kata Sunari yang mengaku suaminya meninggal beberapa tahun lalu.

Sunari mengaku sedih dengan peristiwa yang dialaminya, namun dia pasrah kepada Allah SWT dengan cobaan ini. Meskipun dirinya mengalami kerugian hingga jutaan rupiah.

“Kerugian saya dari musibah ini diatas Rp10 juta rupiah, namun saya pasrah mungkin ini cobaan Yang Maha Kuasa”kata Sunari sambil berharap ada yang memberikan bantuan modal agar usahanya bisa dibuka kembali”katanya.

Kemudian saksi lain terjadinya musibah kebakaran adalah Hj.Ida (80) tahun, pemilik Rumah Makan Etam, yang terletak pelabuhan penyebrangan Sangkulirang.

Menurut Hj. Ida Rumah Makan Etam yang sehari-hari sangat ramai oleh  pengunjung yang ingin menikmati makanan khas Sangkulirang, ludes diamuk si jago merah,

“Seluruh bangunan dan isinya habis terbakar, ibaratnya tai tikuspun tidak tersisa”kata Hj Ida yang mengaku usaha rumah makan etam itu telah dirintis puluhan tahun bersama suami tercinta.

Dikatakan Hj Ida, dalam peristiwa ini, kerugian yang dialaminya jika dihitung bangunan dan usahanya bisa mencapai Rp300 juta. Selain dirinya, kerugian dialami juga anaknya yang punya toko sembako ditaksir sekitar Rp300 juta.

“Saya dengan anak saya dan menantu saya itu kalau dihitung sekitar Rp600 juta lebih itu”jelas Hj Ida yang tinggal di RT 12 Benua Baru Sangkulirang.

Ia mengatakan kios jualannya berisi sembako, begitu juga anaknya bernama Hadi dan istrinya punya kios sembako. Anak saya baru belanja mengisi kios tokonya, karena persiapan karyawan perusahaan akan datang belanja hari minggu 07/07/2019.

“Karena setiap awal bulan itu anak saya mengisi sembako tokonya untuk kebutuhan karyawan perusahaan sawit yang datang belanja. Ternyata baru saja diisi barang terjadi kebakaran”ujar dia.

Namun bagi Hj Ida, kesedihannya bukan saja akibat kerugian Rp300 juta yang dialami atas musibah terbakarnya kios miliknya dan kios anak menantunya serta puluhan kios pedagang lainnya.

Namun kesedihanya Hj Ida adalah, karena beberapa jam sebelum api meluluh lantahkan pasar Sangkulirang, suami meninggal dirinya untuk selamanya menghadap Sang Pencipta Allah SWT.

“Hanya beberapa jam sebelum terjadinya kebakaran suami saya meninggal Uwa Side, sedangkan kebakaran itu terjadi sekitar jam 16.00 Wita”katanya.

Mbah Lobak dan istrinya Sutiari (Foto: Febriani)

Korban lain yang menjadi korban kebakaran pasar Sangkulirang adalah adalah, Mbah Lobak 60 tahun dan istrinya Sutiari 85 umur tahun. Diceritakan, bahwa suami istri ini sudah berjualan lama sembako dan sayuran dipasar Sangkulirang.

“Kami berjualan disini sudah puluhan tahun, sejak pasar sangkulirang dibangunjelas Mba Lobak”

Namun kata dia, meskipun sudah lama di Sangkulirang pasangan suami istri yang hanya menumpang dirumah sepupunya. Itu karena tidak mampu menyewa lakap pasar untuk jualan.

“Kerugian kami dari musibah kebakaran ini sekitar Rp5 jutaan”katanya Mbah Lobak, dia juga berharap ada yang bantu modal.(Febriani/*)