Cerita “Juragan Kapal dari Palu, Tenggelam Di Kutai Timur. Dihadang Gelombang Setinggi Tiga Meter

0
205
Enam ABK Kapal Motor Boyng Star masing-masing, Sucipto Sutrisno alias Alipu( Nahkoda),Saharudin,Ridwan Fajri, Amar, Rully,Syahrir. Saat ini mereka berada di rumah Ikha M Nur , Kampung Palet Sangatta Selatan Kutai Timur. (Foto : Adi Sagaria). anak dari Haji Abdul Latief pemilik KM

Liputankutim.com –  Sucipto 49 tahun warga Desa Wani Dua Kecamatan Tanantovea Kabupaten Donggala Provinsi Sulteng, adalah juragan Kapal Motor Boyng Star yang tenggelam di Muara Sangatta Kabupaten Kutai Timur Jumat 01/03/2019 Pukul 11.00 Wita.

 Namun sebelum KM Boyng Star mengalami musibah, Sucipto dengan nama panggilannya Alipu ini bersama lima ABK, bercerita banyak tentang kejadian selama dalam perjalanan yang berjuang melewati berbagai rintangan dan tantangan.

“ Perjalanan normal dari Pelabuhan Wani hingga Sangatta hanya butuh waktu 18 jam, tapi kali ini sudah 30 jam belum sampai”kata Alipu dibenarkan rekannya yang ada disampingnya saat mengawali perbincangannya dengan Jurnalis Liputankutim.com dirumah Ikha M Nur pemilik usaha dan KM Boyng Star diKampung Palet Desa Sangatta Selatan, Jumat 01/03/2019 Pukul 16.00 Wita.


Ikha M Nur ( kedua dari kanan baju kuning) anak dari Haji Abdul Latif pemilik Kapal dan Usaha dirumahnya di Kampung Palet Sangatta Selatan, bersama ABK KM Boyng Star: Sucipto Sutrisno alias Alipu( Nahkoda),Saharudin,Ridwan Fajri, Amar, Rully,Syahrir , Jumat, 01/03/2019 Pukul 16.00 Wita (Foto : Adi Sagaria)

Menurut Sucipto alias Alipu yang berprofesi sebagai juragan antar pulau sejak tahun 2011, Rabu,26 Februari 2019 KM Boyng Star sudah terisi barang-barang dagangan seberat 12 ton dari total kapasitas 20 ton. Isinya ya sayuran kol, tomat dan buah-buahan seperti durian montong, manga, papaya, alpukat dan kelapa.

Tepat pukul 10.00 Wita kami meninggalkan pelabuhan Wani dengan berlayar tujuan pelabuhan rakyat kampong Kajang, Sangatta Kutai Timur dengan kondisi cuaca saat iyu cukup bagus dan gelombang normal seperti biasa.

DIHADANG GELOMBANG SETINGGI TIGA METER

Setelah kami berlayar sejauh 40 mil tepatnya di Tanjung Manimbaya yang merupakan perbatasan laut Sulawesi dengan Kalimantan kami dihadang gelombang setinggi tiga meter. Posisi air laut hanya 1 sentimeter saja dari ujung kapal.

Kami niat ingin kembali ke pelabuhan Wani tetapi kapal tidak bisa diputar balik karena kencangnya arus laut dan gelombang tinggi. Kami sempat diskusi untuk paksa kembali, namun kapal tidak bisa putar haluan.

“Kami pasrah dan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan sampai tujuan. Kami cukup sulit saat itu. Sebab posisi kapal maju sulit mundurpun sulit.  Sebagai juragan saya ambil keputusan dengan memaksa maju mengikuti arus laut dan akhirnya bisa lolos”kata Sucipto menceritakan pengalamannya dihadang gelombang tinggi.

Jadi selama dari tanjung Manimbaya itu sampai kami memasuki perairan Kutai Timur gelombang tidak pernah redup atau surut, sehingga membuat posisi KM Boyng Star tidak pernah lurus, namun selalu miring ke kiri miring kekanan.

Akibat kondisi gelombang setinggi tiga meter bahkan lebih itu membuat KM selalu oleng atau posisi miring, makanya selama berlayar kami tidak bisa memasak sehingga hanya memakan mi mentah saja, kadang makan buah.

“Kami masuk di muara Sangatta hari kamis 28/02/2019 pukul 19.00 Wita setelah perjalanan selama 30 jam yang seharusnya kalua normal hanya butuh waktu 18 jam dari Wani sudah tiba di Sangatta. Bisa dibayangkan betapa besarnya gelombang saat ini”katanya.

Nah saat masuk muara sangatta tidak bisa menembus arus, sehingga kami buang jangkar dan melihat situasi dulu, namun saya putuskan untuk nginap di kapal lagi.

Kemudian hari jumat pukul 07.00 Wita kami mencari jalan masuk muara, namun arus kuat dan gelombang besar dating lagi sehingga kapal terseret ke bagian yang dangkal, Kapal kami akhirnya kandas.dan saya tidak bisa lagi putar haluan posisi kapal langsung miring.

“Saat itulah saya perintahkan seluruh ABK untuk membuang barang-barang agar kapal ringan dan bisa terangkat, namun usaha itu sia-sia, sebab kapal mulai kemasukan air laut”jelasnya menambakan

Karena situasi semakin tidak menentu kapal penuh air, saya perintahkan lagi untuk mengambil pelampung yang sudah ada didalam kapal. “Kita selamatkan diri kita dulu, naik rakit menuju darat.

“Gelombang semakin tinggi dan hanya hitungan menit saja kapal sudah posisi semakin dan akhirnya tidak terlihat lagi alias tenggelam”katanya.

 Dengan menggunakan rakit yang terbuat dari Gabus berukuran 1,5 meter dan panjang 2 meter itulah kami gunakan bersama-sama untuk kedarat. Beruntung ukuran air hanya sampai leher orang dewasa jadi kaki kami bisa menyentuh pasir didasar. Kalau ada gelombang dua orang naik ke rakit, lainnya dorong.

“Saat tiba didarat kami ambil nafas semua, kata sucipto yang sejak 8 tahun jadi juragan kapal antar pulau.. sekarang posisi kapal yang kelihatan tinggal dek dan bendera merah putih karena kandas”katanya.

Setelah kami sampai didarat kemudian ada petugas datang melihat. Tapi mereka hanya datang tanya-tanya seperti Syahbandar lalu mereka pulang. Jadi tidak ada yang menolong kami saat melawan gelombang sampai ke darat.

Sementara Ikha M Nur pemilik usaha dan kapal, anak dari haji Latif mengatakan dirinya sedih, karena saat ke Kenyamukan minta bantu petugas Polisi Air disana untuk membantu ke muara sangatta tapi tidak direspon

“Petugas Polisi Air hanya bilang sabar mba,kita sudah kena musibah malah dijawab begitu”kata Ikha M Nur dirumahnya.

Karena tidak dibantu, jadinya saya mau sewa kapal motor warga, namun yang punya tidak mau disewa. Warga di Kenyamukan yang bantu saya dengan kapalnya Muara sangatta.

Setelah tiba di Muara Ikha pemilik KM Boyng Star tinggal kelihatan atapnya dan hanya beberapa menit tinggal kelihatan bendera dana tap sedikit. Itu karena sudah tenggelam dengan posisi kandas dan miring.

“Sedangkan seluruh ABK dan Juragam dalam kondisi selamat dan saat ini mereka semua berada di rumah Ikha M Nur di Kampung Palet untuk beberapa hari menunggu kapal dievakuasi. Karena mesin kapal harus diangkat”katanya.

Saat ini mereka butuh pakaian, sebab seluruh barang bawaan pakaian hingga handphone tenggelam bersama kapal. “Kami tunggu bantuan pak, berupa pakaian dan biaya untuk pulang ke kampung”kata Rully dibenarkan yang lainnya.

Nama-nama ABK KM Boyng Star: Sucipto Sutrisno alias Alipu( Nahkoda),Saharudin,Ridwan Fajri, Amar, Rully,Syahrir (liku1/*)