Gubernur dan DPRD Kaltim Menduga Ada Ekspor Batu Bara Ilegal.

0
54
H. Agus Aras, SE, M.AP ( Anggota DPRD Kaltim Fraksi Partai Demokrat, memberikan keterangan Pers usai mengikuti acara Musrembang 2021 si Aula Desa Sepaso Timur Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Selasa, 11/02/2020 (FOTO:Adi Sagaria)

 

SANGATTA,(LIPUTAN KUTIM) – Pemerintah Provinsi Kaltim dan DPRD akan menyelidiki dan mencari tau, dugaan terjadinya ekspor batubara keluar negeri secara ilegal yang merugikan Kaltim dan Negara.

“Hal itu disampaikan Agus Aras dalam saat menghadiri acara Musrembang di Aula Desa Sepaso Timur, Kecamatan Bengalon, Kutim, selasa, 11/02/2020.

Menurut Agus Aras anggota DPRD Kaltim Fraksi Partai Demokrat ini, dugaan penyelundupan batu bara, atau ekspor batu bara ilegal ini, dilakukan oleh perusahaan yang nakal.

Caranya dengan membuat laporan berbeda ke penerima dengan data pengiriman. Misalnya data pengiriman berjumlah 10 ton, namun data ke pihak penerima dilaporkan 15 ton.

“Jadi ada perbedaan data laporan negera penerima dengan laporan dengan Pemerintah Indonesia.Dan ini sangat merugikan negara khususnya Kaltim dan Kutim sebagai pusat produksi batubara terbesar”kata Agus Aras

Dihadapan Sekda dan Pejabat pemkab Kutim, Agus Aras berharap untuk ikut mencari kebenaran dugaan data berbeda ini. Sebab, kalau ini terjadi, maka Negara, Kaltim dan Kutim secara langsung, telah dirugikan.

Dijelaskan Agus Aras, dugaan pengiriman batu bara ailegal ini, belum pasti, namun mendapat opini saat rapat terbatas dengan Gubernur, beberapa waktu lalu.

“ Kami juga baru dengar dari Gubernur Kaltim. Karena itu, pemerintah dan DPRD, sama-sama akan mencari atau menyidiki ada dugaan penyelundupan ekspor batu bara keluar negeri tersebut,” katanya.

Karena masih dugaan, Agus Aras mengatakan, terkait berapa jumlah selisi data nilai ekspor keluar negeri, juga belum ada.

Termasuk negara tujuan, dimana batu bara terkirim dengan data berbeda, juga belum tau. Sebab, Gubernur tidak menyampaikan pada DPRD, terkit data.

”Jadi ini baru indikasi, yang tentunya akan jadi perhatian kita semua. Saya juga sebenarnya berharap, dugaan perbedaan data nilai ekspor tersebut tidak terjadi di wilayah Kaltim, atau Kutim”katanya (ADVERTORIAL/liku1/*)