Stop Perburuan Hewan Primata!

0
79

Bandung – Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun penegak hukum di Jawa Barat diminta untuk proaktif dengan mengeluarkan kebijakan penggunaan senjata api yang kerap digunakan pada perburuan hewan primata.

Saat ini kondisi perburuan primata cukup memprihatinkan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, kepuasan individu untuk hobi maupun diunggah di media sosial menjadi motif meningkatnya perburuan satwa primata di hutan-hutan di Jabar.

Hal itu mengemuka dalam peringatan hari primata Indonesia 2019 di halaman Gasibu tepatnya di depan halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu, 30 Januari 2019.

ProFauna Indonesia menggelar aksi teatrikal perburuan primata dalam rangka memperingati hari primata Indonesia yang diperingati setiap 30 Januari, sebagai bentuk aksi kepedulian dan keprihatinan terhadap status primata yang ada di Indonesia. 

Kordinator ProFauna Indonesia Representatif Jabar, Nadya Andriani mengatakan, untuk tahun ini pihaknya mengusung tema stop perburuan primata karena kondisi dari tahun ketahun kondisi perburuan ternyata semakin meningkat bukan hanya perburuan untuk motif ekonomi tapi juga untuk hobi. “Kelompok pemburu yang hobby justru itu meningkat. Menggunakan senapan angin,”kata dia.

Menurut dia, di Jabar itu walaupun sudah ada aturan penggunaan senapan angin dari polres dan polrertabes tapi memang aturan tersebut masih lemah penegakannya. Penegakkan aturan tersebut sampai saat ini belum menuju masif.

“Untuk itu maka aksi ini diadakan. Kenapa di depan Gedung Sate karena pemprov Jabar harus melihat ini sebagai suatu masalah yang harus dibuat aturan khsusus dari Pemprov,” kata dia.

Adapun wilayah yang dikhawatirkan, kata dia, wilayah Sumedang,  hutan Tasikmalaya dan Kabupaten Bandung Barat. Ironinya pemburu datang dari daerah lain bukan dari Jabar. 

“Kami pernah temukan di Sumedang daerah Citengah pemburu setruk diturunkan. Provinsi diharapkan bikin aturan senjata angin untuk mencegah. Terlebih sekarang ini penegakan masih lemah karena polisi hutannya pun kurang,” ucap dia.

Adapun jenis primata yang diburu paling banyak lutung dan kukang. “Kukang itu termasuk empat jenis yang terancam punah. Kukang Jawa,” ujar dia. 

Nadya mengatakan, hasil perburuan mereka selain untuk diperjualbelikan, ada juga yang dipelihara, ada juga yang ditembak mati kemudian diunggah di medsos. Berdasarkan pantauan mereka selama 2018 ada 12 kasus pengunggahan pembunuhan primata di Indonesia, 

“Di Jabar tidak sebanyak itu,” ucap dia.

Terkait dengan populasi primata di Jabar, kata dia, meski belum mendata secara pasti mereka mengklaim jumlah lutung di Jabar aman, sedangkan kukang menuju punah. Sementara primata berfungsi sebagai menebar benih di hutan dan juga mangsa predator.

“Kalau mereka punah, kita bisa lihat macan tutul turun ke pemukiman mencari makanan, hal itu dikarenakan persediaan makanan di dalam hutan sudah habis,” ucap dia. (pr/yss)