Tablik Akbar Jadi Momentum Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

0
103

Liputankutim.com – Menjelang akhir tahun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) gelar tablik akbar dalam rangka refleksi akhir tahun dengan menghadirkan penceramah KH. Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) dari Yogyakarta, di Masjid Agung Al-Faruq, Kamis (27/12/2018).

Mengusung tema “MUI Untuk Bangsa Memperkokoh Ukhuwah Untuk Kutim Yang Damai dan Sejahterah, kegiatan tersebut diawali dengan berzikir dan bersholawat bersama ribuan masyarakat yang sejak pagi sudah memadati masjid kebanggaan masyarakat Kutim ini.

Mewakil Bupati Seskab Kutim Irawansyah saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, dengan tablig akbar, ada penyampaian informasi serta seruan terkait nilai-nilai keagamaan, yang membuat kita semakin dapat menghormati antar sesama.

Lebih lanjut dirinya menambahkan, memasuki tahun politk 2019 tentunya masyarakat dalam menyikapi Pemilu Legislatif dan Pilpres nanti, tentu harus dengan bijak dan saling menjaga toleransi serta menjaga rasa persatuan dan kesatuan.

“Oleh sebab itulah hendaknya mari bersama memelihara Daerah kita agar tetap aman, tertib dan kondusif,” ajak Irawansyah.

Sebelumnya, Mewakili Ketua MUI Kutim, Dewan Pembina MUI Kutim Sobirin berharap, melalui kegiatan takblik akbar semoga ditahun ini dapat lebih baik pada tahun sebelumya dan tahun yang akan datang dapat lebih baik ditahun ini. Dengan beragamnya etnis, suku dan budaya di Kutim, MUI Kutim mengajak bersama-sama menjalin komunikasi dan toleransi yang baik antar umat agama.

“Di 2019 adalah tahun politik. ada 15 partai politik yang hadir di tengah-tengah Kutim, walau berbeda partai, berbeda dukungan, berbeda pilihan, mari kita jaga persatuan dan kesatuan, mudah-mudahan Kutim tetap utuh, damai, abadi hingga akhir jaman,” ujar Sobirin.

Atas nama pemerintah, Irawansyah juga mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada KH. Ahmad Muwafiq, yang telah meluangkan waktunya, hadir di tengah-tengah masyarakat Kutai Timur.

Sementara itu KH. Ahmad Muwafiq dalam ceramahnya menekankan, agar kita jangan jadikan perbedaan sebagai ajang perpecahan tapi marilah perbedaan itu sebagai pemersatu.

Lewat sejarah Nabi Adam dan Siti Hawa KH. Ahmad Mawafiq memberi pemahaman bahwa semua umat manusia adalah bersaudara.

“Namun karena sudah berbangsa dan bersuku-suku terkadang anak manusia lupa bahwa sebenarnya mereka adalah sedarah. Ketika berkelahi barulah kita ingat bahwa walaupun kita berbeda, kita tetap turunannya Nabi Adam,” tuturnya. (hms10)