Tak Ingin Ada Warga Jadi Korban, KPC Sosialisasikan Larangan Bahaya Masuk Wilayah Bekas Tambang

0
77

Liputankutim.com, Sangatta – PT Kaltim Prima Coal (KPC) melarang warga memasuki daerah berbahaya seperti  Lubang Bekas Tambang dan Area Terbatas,untuk menghindari adanya warga menjadi korban jiwa.

Larangan itu dalam acara sosialisasi larangan masuk daerah berbagaya dan wilayah terbatas yang berlangsung di Kantor Desa Swarga Bara, Sangatta, dengan peserta berasal dari Desa Swarga Bara dan Singa Gembara, Kamis (8/8).

Yordhen Ampung Maneger External Relation menjadi narasumber mewakili PT Kaltim Proma Coal (KPC) bersama Kiagus Nirwan, Superintendent Water Management

Narasumber lain adalah Aji Wijaya Effendi S.Hut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur dan IPTU Slamet Riyadi S.H., M.AP, Kapolsek Sangata Utara, dan Joko Suripto Kabag Pemerintahan Setkab Kutim

Yordhen Ampung dalam mengawali paparannya mengatakan, Sosialisasi ini merupakan tindaklanjut dari Surat Edaran Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia No. 1607/37.03/DBT/2019 tentang Peningkatan Pengawasan Pengamanan Lubang Bekas Tambang.

Peserta sosialisasi larangan masuk daerah berbagaya dan wilayah terbatas yang berlangsung di Kantor Desa Swarga Bara, Sangatta, dengan peserta berasal dari Desa Swarga Bara dan Singa Gembara, Kamis (8/8). FOTO: KPC/SILVESTER PANTUR)

Menurut Yordhen Ampung, sosialisasi itu sebagai upaya pencegahan, melakukan mitigasi terhadap resiko-resiko atau potensi-potensi bahaya yang bersumber dari lubang-lubang tambang.

“Kami ingin mencegah agar tidak ada korban jiwa di kolam bekas tambang KPC. Kami tidak ingin kejadian di daerah lainnya, terjadi di lingkungan kita ini,” kata Yordhen.

Sementara Kepala Bagian Pemerintahan Kutai Timur Joko Suripto, mengatakan, lubang bekas tambang memang merupakan daerah berbahaya. Karena itu masyarakat yang berdekatan dengan lokasi tambang harus memahami bahaya tersebut.

“Lubang bekas tambang itu memang daerah berbahaya, karena itu perlu sosialisasi kepada masyarakat. Dan apa yang dilakukan KPC ini sangat bagus sekali. Kalau bisa dilakukan juga di sekolah-sekolah, karena mayoritas korban di Samarinda adalah anak sekolah,” ujar Joko.

Kiagus Nirwan dalam pemaparannya merinci, kolam bekas tambang dikategorikan sebagai daerah berbahaya karena memiliki kedalaman lebih dari satu meter, memiliki konsentrasi lumpur di dasar kolam dan ada potensi terserang satwa liar.

Karena itu, sejak dahulu KPC melakukan tindakan pencegahan dengan cara memasang tanda larangan memasuki area terbatas, menggelar patroli rutin dan menempatkan petugas security perusahaan di lokasi sejumlah kolam serta meutup akses masuk bagi masyarakat umum. Langkah lainnya menurut Nirwan, berupa sosialisasi kepada masyarakat serta memasang pipa distribusi air untuk warga.

Camat Sangatta Utara M. Basuni menilai apa yang dilakukan KPC sangat bagus. Menurut Basuni, selain menjaga kolam bekas tambangnya dengan ketat, KPC juga masih menggelar  sosialisasi kepada warga. Karena itu Basuni meminta warga agar tidak mendekat ke kolam bekas tambang, sebab jika terjadi kasus fatal, maka rentetannya sangat banyak.

“Kalau terjadi kasus fatal, itu bisa mengganggu operasional KPC. Dan kalau operasional KPC terganggu, maka dampaknya bisa mengganggu penerimaan Kutai Timur. Sebab saat ini, APBD Kutim yang bersumber dari royalty KPC sangat besar. Jangan sampai karena hal kecil saja, kita semua terkena dampak negatifnya,” kata Basuni.

Acara sosialisasi disambut hangat oleh tokoh masyarakat yang hadir. Mereka memberikan masukkan kepada KPC dan Dinas LH serta kepolisian yang menjadi pemateri. Mereka juga meminta agar sosialiasi dilakukan juga di sekolah-sekolah

Acara dihadiri oleh Perangkat Desa dan Tokoh masyarakat Desa Swarga Bara, perangkat desa dan tokoh masyarakat Desa Singa Gembara, Camat Sangata Utara, Polsek Sangata Utara, Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur dan Bagian Pemerintahan Kabupaten Kutai Timur serta perwakilan KPC. (liku/*)