Tujuh Tahun Bermukim Di Kampung Budaya, Warga Basap Bengalon Mengaku Gagal

0
466
Suroso (70) tahun Ketua RT 02 Kampung Budaya Desa Keraitan Kecamatan Bengalon Kabupaten Kutai Timur, Kaltim. Didampingi istrinya Siti Fatimah (FOTO: Adi Sagaria).

Liputankutim.com, Sangatta –  Sudah tujuh tahun sejak November 2011, 70 Kepala Keluarga (KK) warga suku Basap meninggalkan kampung halamannya di Segading dan bermukim di Keraitan Kecamatan Bengalon Kabupaten Kutai Timur.  Warga Suku Basap ini dipindahkan melalui program Segading resettlement PT Kaltim Prima Coal (KPC) bekerjasama dengan Pemkab Kutai Timur.

Tujuannya adalah untuk memberikan tempat yang layak bagi masyarakat suku basap dengan menata kehidupannya yang lebih baik. Ditempat yang baru dengan dilengkapi dengan pembangunan berbagai fasilitas seperti rumah, kantor desa, rumah adat, sekolah dasar, dan sarana olahraga lapangan sepakbola hingga lahan perkebunan dan kolam budidaya ikan.

Selain itu, oleh PT Kaltim Prima coal memberikan jaminan hidup selama lima tahun yakni sejak 2011 – 2015 berupa sembako dan biaya lainnya seperti uang belanja. Fasilitas lain yang juga disediakan KPC seperti listrik generator dan fasilitas air bersih dan bahan bakar solar termasuk pemeliharannya.

Dengan harapan setelah itu mereka bisa mandiri, membangun daerahnya dengan baik dan meningkatkan kesejahteraannya tanpa ketergantungan lagi.

Namun, demikian menurut warga, meskipun sudah sembilan tahun pindah dari kampung halaman Segading ke kampung baru yang saat ini diberi nama “ Kampung Budaya” Desa Keraitan Kecamatan Bengalon, kehidupan yang dirasakan tidak banyak berubah, bahkan gagal total.

“Terus terang, kehidupan kami disini selama ini saya anggap gagal total”kata Suroso Ketua RT 02 Kampung budaya saat dikunjungi Liputankutim.com dan staf dari kantor Kecamatan Bengalon, Rabu, 19/06/2019 pekan ini.

Gagal total menurut Suroto, karena apa yang dulunya dia bayangkan Bersama warganya saat dipindahkan, tidak terealisasi sampai saat ini. Perkebunan yang mereka harapkan ternyata tidak ada kebun, bibit karet yang dibagikan secara gratis kepada warga tidak bisa tumbuh karena tidak ada obat dan pupuk.

“Kami hanya diberikan bibit karetnya tapi tidak adiberikan obat dan pupuk, mana bisa tumbuh. Ini gagal total.Kemudian kebun untuk menanam padi tidak ada. Sudah dua tahun kami gagal panen”kata Ketua RT 02 Suroso didampingi istrinya Siti Fatimah.

Yang lainnya adalah lokasi perikanan yang dibangun KPC juga gagal total. Kami tidak pernah panen ikannya, habis dimakan berang-berang karena tidak dipagar. Kami dijanjikan lagi akan dibuatkan pencetakan sawah, namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda.

“Kami dijanjikan lagi sama Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dan KPC akan dibuatkan lahan pertanian berupa pencetakan sawah seluas 20 haktare. Mudah-mudahan tahun ini dilaksanakan”jelas Suroso berharap.

Ketua RT Suroso mengatakan juga, bahwa dari 70 Kepala keluarga (KK) yang dulu bersama-sama pindah kesini tahun 2011 itu, kini tidak utuh lagi. Ada yang kembali ke Segading kampung lama dan ada juga yang keluar mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan di Bengalon.

Suroso berharap agar pemerintah dan KPC bisa lebih memberikan perhatian kepada warga kami disini, seperti dibuatkan lahan pertanian dan perkebunan. Kalau ada kebun warga bisa berusaha dengan menanam sayuran, Lombok, tomat, terong untuk dijual ke pasar di Bengalon.

 “Itu harapan saya sebagai Ketua RT supaya warga punya pekerjaan punya penghasilan dan betah tinggal disini”katanya (liku1/*) Baca juga edisi berikutnya. (Enak di Kampung Segading atau Kampung Budaya)