Woh, Terdata 2004 Anak Di Kutim Pertumbuhannya Tidak Sehat

0
210
Ilustrasi Stunting

Liputankutim.com, SANGATTA –  Kabar terbaru menyebutkan jika terdapat 2004 orang anak di Kutai Timur pertumbuhannya tidak sehat atau kekurangan gizi. Jumlah itu diperkirakan masih akan terus bertambah, karena pendataan masih terus dilakukan.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, dr. H. Bahrani, menjawab pertanyaan  Jurnalis yang menghubunginya dari Sangatta, melalui percakapan telepon selulernya dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu,10/04/2019.

“Hari ini saya masih di Banjarmasan mengikuti kegiatan dinas, gimana kalau hari jumat kita ketemu untuk saya jelaskan,”kata dr. H.Bahrani.

Namun saat didesak untuk menjawab, dr. Bahrani mengungkapkan bahwa, benar berdasarkan data yang ada, hingga kini jumlahnya tercacat 2004 orang anak yang mengalami penyakit stunting atau yang disebut (kerdil) dari standar usianya.

Menurutnya, jumlah tersebut kemungkinan bisa saja bertambah, karena pendataan masih terus dilakukan oleh puskesmas di 18 kecamatan. Namun dari jumlah itu, terbesar ada di Kecamatan Bengalon.

“Penderita stunting di 18 Kecamatan Se-Kutim tercatat 2004 orang. terbanyak di Bengalon. Jumlah ini sekitar 20 persen dari jumlah kelahiran.  Ini masih rendah dari jumlah persentasi  stunting nasional yang berkisar 30 persen dari angka kelahiran,” katanya.

Ia mengatakan, banyak masyatakat yang belum mengetahui apa itu stunting, termasuk penyebabnya.  Padahal, jelasnya,  Stunting adalah  masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal,  faktor genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan, yang seharusnya bisa dicegah.

“Karena itu, kami sekarang ini tengah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi masalah stunting ini,” katanya. Diantara kegiatan yang dilakukan adalah dengan pemberian makanan tambahan bada bayi, termasuk pemberiaan susu.

“Stunting sebenarnya tidak selamanya akibat kemiskinan, tapi juga bisa karena salah mengolah makanan, sehingga makanan yang seharusnya  bergizi, menjadi tidak bergizi.  Karena itu  selain dinas kesehatan, pihak terkait  juga melakukan sosialisasi agar  masalah ini bisa dicegah, dengan  cara mengolah makanan yang benar,” katanya (liku1/*)